Jumat, 03 Mei 2013

Kemampuan Berpikir Kritis


Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpendapat dengan cara yang terorganisasi, kemampuan  untuk mengevaluasi secara sistematis bobot pendapat pribadi dan pendapat orang lain.  Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti: memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah. Selain itu berpikir kritis juga didefinisikan sebagai aktivitas mental sistematis yang dilakukan oleh orang-orang yang toleran dengan pikiran terbuka untuk memperluas pemahaman mereka. Menurut pendapat Schafersman yang dikutip oleh Cholis Abrori, berpikir kritis adalah berpikir berdasarkan pengetahuan yang sesuai dan dapat dipercaya, atau cara berpikir yang beralasan, dapat digambarkan, bertanggung jawab dan mahir.25 Pemikir kritis memiliki karakteristik berikut ini:
a. Menggunakan bukti dengan baik dan berimbang
b. Mengelola pikiran dan menyampaikannya secara konsisten dan jelas
c. Membedakan segala sesuatu secara logis
d. Mampu belajar secara mandiri dan tidak mudah putus asa dalam mengerjakan sesuatu
e. Menerapkan teknik problem solving
f. Dapat memberi argumen secara lisan bila terdapat ketidaksesuaian
g. Membiasakan meragukan pendapat sendiri dan berusaha memahaminya
h. Mengakui kemungkinan pendapat sendiri keliru

Seseorang yang berpikir kritis menurut Carrol, adalah seseorang yang berpikir terbuka, rendah hati, memiliki motivasi tinggi dan berpikir bebas.  Menurut Ferret, seseorang dapat menjadi pemikir kritis bila memiliki karakteristik antara lain: dapat memperbaiki kekeliruan pemahaman atau informasi, memiliki rasa ingin tahu, tertarik untuk mencari solusi baru, mendengarkan orang lain dengan baik dan memberikan umpan balik, mencari bukti, menguji masalah secara terbuka, serta dapat mengambil kesimpulan.  Delapan langkah-langkah untuk menjadi pemikir kritis menurut Johnson adalah: dimulai dari merumuskan masalah, menganalisis permasalahan, mengumpulkan informasi, mengevaluasi asumsi dan informasi, menggunakan bahasa yang jelas dalam menyampaikan gagasan,
menggunakan bukti-bukti yang meyakinkan, menarik kesimpulan serta dapat memprediksi implikasi dari kesimpulan yang diambil. Suatu penyelenggaraan belajar-mengajar merupakan proses pendidikan kritis, yang harus mencerdaskan sekaligus bersifat membebaskan pesertanya untuk menjadi pelaku (subyek) utama, bukan sasaran perlakuan (obyek) dari proses tersebut. Adapun ciri-ciri pokok dari proses pendidikan kritis adalah belajar dari realitas atau pengalaman, tidak menggurui, dan dialogis.  Rath et al (1966) menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir kritis adalah interaksi antara pengajar dan siswa. Siswa memerlukan suasana akademik yang memberikan kebebasan dan rasa aman bagi mereka untuk mengekspresikan pendapat dan keputusannya selama berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.
Selain diartikan sebagai proses, berpikir kritis dapat juga diartikan sebagai suatu kemampuan. Proses dan kemampuan tersebut digunakan untuk memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi secara kritis pada buku teks, journal, teman diskusi, termasuk argumentasi guru dalam pembelajaran.  Berpikir kritis dalam pendidikan merupakan kompetensi yang akan dicapai serta alat yang diperlukan dalam mengkonstruksi pengetahuan. Setiap langkah dalam berpikir kritis selalu dimulai dengan mengidentifikasi permasalahan dan dicari alternative pemecahannya.
Kemampuan berpikir kritis dapat disimpulkan sebagai berikut: dapat merumuskan masalah, menganalisis permasalahan, mengumpulkan informasi, mengevaluasi asumsi dan informasi, menggunakan bahasa yang jelas dalam menyampaikan gagasan, menggunakan bukti-bukti yang meyakinkan, menarik kesimpulan serta dapat memprediksi implikasi dari kesimpulan yang diambil.




·      Cholis Abrori, Berpikir Kritis (Critical Thinking) Dalam Profesi Dokter,
http://elearning.unej.ac.id/courses/DOLLIS/document/BERPIKIR_KRITIS.pdf?cidReq=DOLLIS,
(Diakses, 7 Februari 2008)
·      Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning, (Bandung: Mizan Learning Center, 2006)
·      Roem Topatimasang, dkk, Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis, (Yogyakarta: INSIST Prerss, 2005)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar